“Adi!!!!! Cepet bangun!!! Mau tidur sampai jam berapa kamu???!!!” teriak
seorang ibu bernama Marsinah kepada anaknya yang bernama Adi. “Bentar dong
bu.... Masih ngantuk nihhh, tadi malem begadang sampai jam 3 pagi gara-gara
liat bola...” balas Adi yang masih saja memejamkan matanya. “Bangun atau laptop
kamu ibu rampas!” ancam ibu. Mendengar ancaman itu Adi langsung bangun dari
ranjang nya dan bergegas keluar dari kamar menuju meja makan. “Jangan
malas-malasan saja kamu dirumah, cari kerja sana... udah 1 tahun lulus kuliah
belum juga dapet kerja.” Ujar sang Ibu. “Ya sabar lah bu... Ntar kalo udah ada
kerja kan aku bakal kerja. Lagian jaman sekarang cari kerja itu susah bu...”
keluh Adi sambil memakan sepotong Roti yang ada di meja makan. “kamu itu anak
Ibu satu-satunya Di. Kamu kebanggaan Ibu. Ayahmu udah gak ada nak. Masa harus
ibu terus yang cari nafkah..”ujar Ibu. Mendengar perkataan ibunya itu hati Adi
tergerak. Ia lalu memeluk dan mencium ibunya. “iya bu, aku bakal cepet-cepet
cari kerja. Tapi bu, aku males cari kerja kesana kesini. Susah dapetnya bu. Aku
pingin buka usaha ajah bu. Aku males jadi pegawai.” Ujar Adi. “Kalo kamu cari
kerja ajah males, gimana mau buka usaha nak... Pengusaha-pengusaha yang sukses,
sebelum dia jadi pengusaha ia pasti juga mondar-mandir cari kerja nak...
Membuka usaha itu gak gampang. Butuh modal yang banyak, butuh pengalaman. Salah
langkah dikit, kamu bakal bangkrut.” Ujar Ibu. Adi hanya menghela nafas
mendengar perkataan ibunya. Adi memang terkenal anak yang pemalas. Saking malas
nya, untuk menyelasaikan S1 nya saja ia butuh waktu kurang lebih 7 tahun karena
ia malas mengerjakan skripsinya. Setelah lulus pun yang ia lakukan hanya Makan,
main laptop, tidur. Tidak pernah ada usaha untuk mencari kerja. Padahal ibunya
telah membanting tulang untuk membiayai kuliahnya, semenjak Ayahnya meninggal
ketika Adi masih duduk di kelas 1 SMA karena kecelakaan pesawat. Walau begitu
ia adalah anak yang baik. Ia jauh dari yang namanya rokok, narkoba, wanita,
atau mabuk-mabukan. Itu yang membuat Ibunya sedikit lega karena anak
satu-satunya itu tidak terjerumus kedalam jurang pergaulan yang bebas.
Sejak sang
ayah meninggal, Adi jadi ingin menjadi pengusaha seperti ayahnya. “enak jadi
pengusaha, tinggal duduk-duduk sambil nyuruh pegawai, uang terus mengalir”
begitu pikirnya. Sungguh Adi si “pemalas”. Ia tidak tahu jika proses menuju
pengusaha itu harus melalui jalan yang terjal dahulu. Resiko nya pun banyak.
Salah langkah dikit, hancurlah dia.
“Kamu jadi
buka usaha apa Di?” tanya Arjun, sahabat Adi. Arjun adalah sahabat Adi yang
paling setia. Mereka berteman sejak Arjun dan Adi duduk di kelas 1 SD. “Gak tau
Jun. Ini juga lagi mikir...” jawab Adi sambil menguatak-atik laptop
kesayangannya. Laptop yang ia dapat dari ayahnya saat ia ulangtahun yang ke 12.
“mikir terus, kapan usahanya, Di? Orang kamu mikir ajah sambil main Call Of
Duty, gimana bisa mikir?” celetuk Arjun.
“Justru
dengan main game aku bisa mikir Jun..” jawab Adi sambil terus memainkan
Laptopnya. Arjun hanya bisa menghela nafas. “Saran aku ya Di, kamu bikin usaha
yang emang itu hobi kamu...” saran Arjun. “Ohhh gitu ya...” jawab Adi. “Emang
hobi kamu apa toh?” tanya Arjun. “Main Call of Duty” jawab Adi. “Selain main
Call of Duty?” tanya Arjun lagi. “Main PES Jun...” jawab Adi. “Kamu buka usaha
warnet ajah kalo gitu Di” celetuk Arjun dengan nada yang kesal. Adi hanya
tersenyum. Ya, sambil terus memainkan otongnya laptopnya. :p
Namun
nampaknya, celetukan Arjun yang menyarankan Adi untuk membuka warnet diaanggap
serius oleh Adi. Ia mulai mensurvey tempat-tempat warnet yang terkenal ramai.
Yang ia survei adalah tempat warnet nya dan juga fasilitas nya. “Warnet manapun
fasilitasnya sama ajah. Gak jauh beda ternyata..” gumam Adi. Ia lalu berpikir
untuk membuat warnet yang beda dari yang lain. Diantaranya adalah Resto-Warnet.
Restoran sekaligus warnet. Ia membayangkan di setiap meja restorannya nanti
telah disediakan seperangkat PC, dan tentu terdapat pelayan yang siap
mengantarkan pesanan sesuai yang pelanggan inginkan. Namun ia segera
menghentikan keinginannya itu. Ia sadar, modal yang dibutuhkan untuk membuka
warnet saja sudah sangat banyak apalagi menyiapkan koki, belum lagi pelayannya.
Ia menghela nafas panjang. “ternyata bikin usaha itu sulit ya...” gumamnya
dalam hati. Ia lalu teringat sesuatu. Sebelum mengoleksi game-game pc, ia
pernah mengoleksi buku bacaan. “Kenapa tidak kugunakan saja buku ku itu untuk
mendapatkan modal membuka warnet. Dari pada harus jadi pegawai dulu buat
ngumpulin modal...” pikirnya.
Adi lalu mencari
buku-bukunya itu. Ia ingat, ia menyimpannya di kardus yang ia taruh di gudang.
Ia buka satu-satu kardus, dan ia akhirnya menemukan 3 kardus yang berisi buku.
1 kardus adalah bukunya, sedangkan 2 kardus yang lain adalah milik ayahnya.
Namun ia merasa buku yang ia miliki masih kurang. Ia lalu mencari buku-buku
bekas di pinggir jalan. Ia juga membeli buku-buku Arjun yang tidak terpakai.
Namun Arjun menolak. “Ambil ajah buku itu, gak usah dibeli. Lagian itu juga
buat usaha kamu nantinya..” kata Arjun saat Adi akan membeli buku-bukunya itu.
2 minggu
sudah Adi mengumpulkan buku-buku. Ia merasa cukup dengan buku yang ia miliki.
Ia lalu menata buku itu ke rak yang juga ia beli dengan uang tabungannya
sendiri. Ia lalu membuat papan yang bertuliskan “PERSEWAAN BUKU ADI”. Ya, Adi
membuka persewaan buku. Sewa 1 buku ia hargai dengan 2500/hari. Buku yang ia
sewakan diaantaranya adalah Novel, buku biografi tokoh-tokoh terkenal, kamus,
ensiklopedia, dll. “Hebat kamu Di, bisa punya ide bikin usaha persewaan buku.
Mudah-mudahan ramai ya Di..” kata sang Ibu sambil memeluk Adi. “Amin bu... Ini
juga aku kebetulan inget kalo aku dulu pernah ngoleksi buku.” Ujar Adi sambil
tersenyum. Ia dengan senyum puas menatap rak-rak yang berisi buku yang akan ia
sewakan. Ia juga memasang iklan di Internet agar banyak yang menyewa buku di
tempatnya.
1 tahun
sudah ia membuka persewaan buku. Ia seaakan lupa akan tujuan utamanya membuka
usaha persewaan buku, yaitu membuka usaha Warnet. Usaha persewaan nya itu kian
ramai, karena tidak hanya buku-buku lama yang ia sewakan, tetapi juga ada
buku-buku baru. Harga sewanya pun ikut naik, dari yang 1 buku hanya 2500/hari,
menjadi 1 buku 6000/hari. Buku yang ia sewakan pun semakin beragam. Ia juga
menyediakan ruangan untuk membaca, dengan harga 2000/jam. Di tempat persewaanya
itu ia juga menjual kue bikinan ibunya. Dengan semua itu ditambah dengan
ramainya pengunjung, penghasilannya pun lumayan. Per bulan rata-rata ia bisa
menghasilkan uang sekitar 1,5 juta hingga 2,5 juta. Tidak beda jauh dengan pegawai
memang, namun ia juga tidak perlu disuruh-suruh oleh bos seperti pegawai. Ia
hanya duduk santai sambil mengawasi pengunjung. Ia juga tidak perlu membayar
gaji pegawai. Kini semua orang di Indonesia tahu tempat persewaan buku Adi. Ya,
Adi si pemalas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan... Ini cuma cerpen... Saya hanya ingin penilaian dari anda...