Cari

Rabu, 18 Februari 2015

Cerpen: Si “Pemalas” yang Sukses


“Adi!!!!! Cepet bangun!!! Mau tidur sampai jam berapa kamu???!!!” teriak seorang ibu bernama Marsinah kepada anaknya yang bernama Adi. “Bentar dong bu.... Masih ngantuk nihhh, tadi malem begadang sampai jam 3 pagi gara-gara liat bola...” balas Adi yang masih saja memejamkan matanya. “Bangun atau laptop kamu ibu rampas!” ancam ibu. Mendengar ancaman itu Adi langsung bangun dari ranjang nya dan bergegas keluar dari kamar menuju meja makan. “Jangan malas-malasan saja kamu dirumah, cari kerja sana... udah 1 tahun lulus kuliah belum juga dapet kerja.” Ujar sang Ibu. “Ya sabar lah bu... Ntar kalo udah ada kerja kan aku bakal kerja. Lagian jaman sekarang cari kerja itu susah bu...” keluh Adi sambil memakan sepotong Roti yang ada di meja makan. “kamu itu anak Ibu satu-satunya Di. Kamu kebanggaan Ibu. Ayahmu udah gak ada nak. Masa harus ibu terus yang cari nafkah..”ujar Ibu. Mendengar perkataan ibunya itu hati Adi tergerak. Ia lalu memeluk dan mencium ibunya. “iya bu, aku bakal cepet-cepet cari kerja. Tapi bu, aku males cari kerja kesana kesini. Susah dapetnya bu. Aku pingin buka usaha ajah bu. Aku males jadi pegawai.” Ujar Adi. “Kalo kamu cari kerja ajah males, gimana mau buka usaha nak... Pengusaha-pengusaha yang sukses, sebelum dia jadi pengusaha ia pasti juga mondar-mandir cari kerja nak... Membuka usaha itu gak gampang. Butuh modal yang banyak, butuh pengalaman. Salah langkah dikit, kamu bakal bangkrut.” Ujar Ibu. Adi hanya menghela nafas mendengar perkataan ibunya. Adi memang terkenal anak yang pemalas. Saking malas nya, untuk menyelasaikan S1 nya saja ia butuh waktu kurang lebih 7 tahun karena ia malas mengerjakan skripsinya. Setelah lulus pun yang ia lakukan hanya Makan, main laptop, tidur. Tidak pernah ada usaha untuk mencari kerja. Padahal ibunya telah membanting tulang untuk membiayai kuliahnya, semenjak Ayahnya meninggal ketika Adi masih duduk di kelas 1 SMA karena kecelakaan pesawat. Walau begitu ia adalah anak yang baik. Ia jauh dari yang namanya rokok, narkoba, wanita, atau mabuk-mabukan. Itu yang membuat Ibunya sedikit lega karena anak satu-satunya itu tidak terjerumus kedalam jurang pergaulan yang bebas.
Sejak sang ayah meninggal, Adi jadi ingin menjadi pengusaha seperti ayahnya. “enak jadi pengusaha, tinggal duduk-duduk sambil nyuruh pegawai, uang terus mengalir” begitu pikirnya. Sungguh Adi si “pemalas”. Ia tidak tahu jika proses menuju pengusaha itu harus melalui jalan yang terjal dahulu. Resiko nya pun banyak. Salah langkah dikit, hancurlah dia.
“Kamu jadi buka usaha apa Di?” tanya Arjun, sahabat Adi. Arjun adalah sahabat Adi yang paling setia. Mereka berteman sejak Arjun dan Adi duduk di kelas 1 SD. “Gak tau Jun. Ini juga lagi mikir...” jawab Adi sambil menguatak-atik laptop kesayangannya. Laptop yang ia dapat dari ayahnya saat ia ulangtahun yang ke 12. “mikir terus, kapan usahanya, Di? Orang kamu mikir ajah sambil main Call Of Duty, gimana bisa mikir?” celetuk Arjun.
“Justru dengan main game aku bisa mikir Jun..” jawab Adi sambil terus memainkan Laptopnya. Arjun hanya bisa menghela nafas. “Saran aku ya Di, kamu bikin usaha yang emang itu hobi kamu...” saran Arjun. “Ohhh gitu ya...” jawab Adi. “Emang hobi kamu apa toh?” tanya Arjun. “Main Call of Duty” jawab Adi. “Selain main Call of Duty?” tanya Arjun lagi. “Main PES Jun...” jawab Adi. “Kamu buka usaha warnet ajah kalo gitu Di” celetuk Arjun dengan nada yang kesal. Adi hanya tersenyum. Ya, sambil terus memainkan otongnya laptopnya. :p
Namun nampaknya, celetukan Arjun yang menyarankan Adi untuk membuka warnet diaanggap serius oleh Adi. Ia mulai mensurvey tempat-tempat warnet yang terkenal ramai. Yang ia survei adalah tempat warnet nya dan juga fasilitas nya. “Warnet manapun fasilitasnya sama ajah. Gak jauh beda ternyata..” gumam Adi. Ia lalu berpikir untuk membuat warnet yang beda dari yang lain. Diantaranya adalah Resto-Warnet. Restoran sekaligus warnet. Ia membayangkan di setiap meja restorannya nanti telah disediakan seperangkat PC, dan tentu terdapat pelayan yang siap mengantarkan pesanan sesuai yang pelanggan inginkan. Namun ia segera menghentikan keinginannya itu. Ia sadar, modal yang dibutuhkan untuk membuka warnet saja sudah sangat banyak apalagi menyiapkan koki, belum lagi pelayannya. Ia menghela nafas panjang. “ternyata bikin usaha itu sulit ya...” gumamnya dalam hati. Ia lalu teringat sesuatu. Sebelum mengoleksi game-game pc, ia pernah mengoleksi buku bacaan. “Kenapa tidak kugunakan saja buku ku itu untuk mendapatkan modal membuka warnet. Dari pada harus jadi pegawai dulu buat ngumpulin modal...” pikirnya.
Adi lalu mencari buku-bukunya itu. Ia ingat, ia menyimpannya di kardus yang ia taruh di gudang. Ia buka satu-satu kardus, dan ia akhirnya menemukan 3 kardus yang berisi buku. 1 kardus adalah bukunya, sedangkan 2 kardus yang lain adalah milik ayahnya. Namun ia merasa buku yang ia miliki masih kurang. Ia lalu mencari buku-buku bekas di pinggir jalan. Ia juga membeli buku-buku Arjun yang tidak terpakai. Namun Arjun menolak. “Ambil ajah buku itu, gak usah dibeli. Lagian itu juga buat usaha kamu nantinya..” kata Arjun saat Adi akan membeli buku-bukunya itu.
2 minggu sudah Adi mengumpulkan buku-buku. Ia merasa cukup dengan buku yang ia miliki. Ia lalu menata buku itu ke rak yang juga ia beli dengan uang tabungannya sendiri. Ia lalu membuat papan yang bertuliskan “PERSEWAAN BUKU ADI”. Ya, Adi membuka persewaan buku. Sewa 1 buku ia hargai dengan 2500/hari. Buku yang ia sewakan diaantaranya adalah Novel, buku biografi tokoh-tokoh terkenal, kamus, ensiklopedia, dll. “Hebat kamu Di, bisa punya ide bikin usaha persewaan buku. Mudah-mudahan ramai ya Di..” kata sang Ibu sambil memeluk Adi. “Amin bu... Ini juga aku kebetulan inget kalo aku dulu pernah ngoleksi buku.” Ujar Adi sambil tersenyum. Ia dengan senyum puas menatap rak-rak yang berisi buku yang akan ia sewakan. Ia juga memasang iklan di Internet agar banyak yang menyewa buku di tempatnya.
1 tahun sudah ia membuka persewaan buku. Ia seaakan lupa akan tujuan utamanya membuka usaha persewaan buku, yaitu membuka usaha Warnet. Usaha persewaan nya itu kian ramai, karena tidak hanya buku-buku lama yang ia sewakan, tetapi juga ada buku-buku baru. Harga sewanya pun ikut naik, dari yang 1 buku hanya 2500/hari, menjadi 1 buku 6000/hari. Buku yang ia sewakan pun semakin beragam. Ia juga menyediakan ruangan untuk membaca, dengan harga 2000/jam. Di tempat persewaanya itu ia juga menjual kue bikinan ibunya. Dengan semua itu ditambah dengan ramainya pengunjung, penghasilannya pun lumayan. Per bulan rata-rata ia bisa menghasilkan uang sekitar 1,5 juta hingga 2,5 juta. Tidak beda jauh dengan pegawai memang, namun ia juga tidak perlu disuruh-suruh oleh bos seperti pegawai. Ia hanya duduk santai sambil mengawasi pengunjung. Ia juga tidak perlu membayar gaji pegawai. Kini semua orang di Indonesia tahu tempat persewaan buku Adi. Ya, Adi si pemalas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan sopan... Ini cuma cerpen... Saya hanya ingin penilaian dari anda...