"Kau Akan Selalu di Hati" (Inspirasi: @dhikeJKT48)
Jam dinding ku berdetik. Hujan turun dengan sangat deras. Aku memandang ke luar jendela. Sepi sekali. Hanya suara hujan yang terdengar. Ku pandangi foto pacarku. Tidak, lebih tepatnya mantan ku, Dhike. Ya, baru kemarin aku putus dengannya. Penyebabnya hanyalah salah paham. Aku hempaskan badan ku ini ke kasur. Ku pejamkan mata ku. Ingatan ku tentang Dhike pun seperti berputar di otak ku. Mulai dari pengalaman manis ku dengan Dhike seperti saat aka baru bertemu dengannya ketika Masa Orientasi Siswa saat SMA hingga pengalaman pahit ku dengan dia seperti saat dia mengucapkan kata yang sangat sederhana namun mampu meremukkan hati, yaitu kata "Putus...". Otak ku seperti memutar kembali ingatan-ingatan ku tentang Dhike. Dan otak ku pun memutar ingatan ku mengapa aku bisa putus dengan Dhike....
"Aldiiii...." teriak Dhike memanggil ku.
"Iya?" tanya ku
"Ntar jadi kan kita liat konser David Gueta nya?" tanya Dhike.
"Jadi dong.... nih tiket nya...." ujar ku sambil menyerahkan tiket yang aku pegang
"Lho? kamu beliin aku tiket juga? Ihhh ngerepotin tauuu..." ujar Dhike.
"Gak repot kok. Kan yang minta kamu..." ujar ku sambil mencubit pipi Dhike.
"Kamu tuhhh yaaa..." ujar Dhike malu.
"Hehehe..." tawa ku.
"Yaudahh.... nanti kita langsung ketemuan di lokasi ajah ya.... Sampai ketemu nanti..." ujar Dhike sambil mencium pipi ku.
Malam pun tiba. Aku sudah bersiap untuk ke tempat konser David Gueta. Aku lalu berangkat menggunakan Honda Jazz milik ayah ku. Setelah sampai di lokasi aku lalu menelpon Dhike. Dia bilang kalau dia lagi di jalan. Aku menunggu di dekat antrian. Aku lalu melihat seseoramg. Seseorang tidak asing bagi ku. Dia adalah Stella, mantan pacarku. Aku lalu menghampirinya.
"Ste... Stella kan?" tanya ku ragu.
"Lho? Aldi ya.... Wahhh, lu juga suka David Gueta Al?" tanya Stella.
"Yoi... Sama siapa lu?" tanya ku.
"Sama temen... Lhah lu sama siapa?" tanya Stella.
"Sama pacar gue..." jawab ku.
"Lu gak berubah ya dari dulu...." canda Stella.
Kami lalu duduk berdua sambil menikmati Kebab. Kami bercanda dan bercerita tentang segala hal.
"Kocak banget guru lu,,, wkwkwkwkwk..." tawa Stella.
" Eh Stell, di pipi lu tuh ada sambel nya..." ujar ku.
"Hah, mana?" tanya Stella.
"Nihh..." aku lalu membersihkan pipi Stella. Dan tanpa sadar, Dhike muncul di depan kami.
"A... Al..." Dhike terpaku melihat ku membersihkan pipi Stella.
"Ehh, Dhik... Ini gak seperti yang kamu kira..." ujar ku berusaha memberikan penjelasan kepada Dhike. Stella lalu pergi meninggalkan kami berdua.
"Tega kamu ya..." ujar Dhike yang mulai meneteskan air mata.
"Ta, tapi... Aku bisa jelasin..." belum sempat aku menjelaskan, Dhike lalu memotong.
"Gak ada yang perlu di jelasin lagi Al...! Kita Putus!!!!"
DUARRRRRR!!!!
Suara petir mengejutkan ku. Aku lalu membuka mata ku. Aku lalu bangkit. Hujan masih saja turun. Bahkan lebih deras dari sebelumnya. Ku pandangi foto Dhike lagi. Ya, aku sadar. Aku harus move on. Aku tidak ingin galau hanya karena memikirkannya.
"Dhike... Aku akan berusaha melupakan mu. Melupakan kenangan indah yang pernah kita alami ketika kita pacaran. Tapi aku berjanji, apapun yang terjadi nanti, kau akan selalu di hati..." ujar ku dalam hati, lalu merobek foto Dhike. Bersama dengan sobek nya foto Dhike itu aku berharap, aku bisa melupakan Dhike....
- TAMAT
NB: Cerita di atas hanya karangan saya. Jika ada kesamaan tempat, dan kejadian, mungkin itu hanya kebetulan saja. Selamat membaca, semoga anda senang dengan cerita saya :))
Follow me on Twitter: @RiskyR_0048









