Cinta Itu Indah (Inspirasi @sendyJKT48)
"Heyy broo....." sapa gue ke Ari, sahabat gue di Sekolah.
"Apa?" tanya Ari.
"Gue kayaknya jatuh cinta nih sama seseorang...." kata gue malu-malu.
"Sama siapa bro..?" tanya Ari penasaran.
"Sama cewek lahh...." kata gue.
"Yaelah bro, lu bego dipelihara.... Maksudnya nama cewek nya bego.....!!!" kata Ari kesel.
"Ohh... hehehe... anu bro, si Sendy..." kata gue malu.
"Lu serius suka sama Sendy? Dia gak normal bro.... masa Dia gak percaya sama yang namanya cinta..." jelas Ari.
"Enak ajah lu bilang Sendy gak normal... Dia normal kali... Cuma dia gak pernah ajah ngerasaiin Cinta..." kata gue ngebela Sendy.
"Yakin lu mau ngejar dia? Banyak lho cowo yang ditolak sama dia..." kata Ari.
"Tenang ajah lagi... Gue yakin, gue bakal jadi cinta pertama dan terakhir gue." kata gue.
"Terserah lu sihh... semoga sukses deh ya..." kata Ari ragu.
Gue masuk kelas. Mungkin kalian gak tau, gue satu kelas sama Sendy. Bahkan kami sebangku. Hanya kami memang kurang akrab, walau tak jarang kami bercanda dikelas.
"Eh, Sen..." sapa gue.
"Apa?" tanya Sendy.
"Gue lagi jatuh cinta nihh sama cewe..." kata gue.
"Oh, lu bisa suka sama cewe?" tanya Sendy ngeledek.
"Yah bisalahh......" kata gue sewot.
"Gue kira lu homo slama ini..." ujar Sendy ngeledek.
"Apaan sihh..." kata gue ngambek.
"Ciee ngambek... Bercanda kokk...." ujar Sendy
"Bercanda lu jelek...." ujar gue.
"Emang lu suka sama siapa? Sama gue?" tanya Sendy.
"Rahasia dong...." jawab gue.
"Apa sih enaknya jatuh cinta? Cuma bisa bikin orang sakit hati ajah..." kata Sendy.
"Jatuh cinta itu indah kali... Makanya, lu coba ajah pacaran sama gue..." kata gue sedikit keceplosan.
"Hahhh?? Ohhh, jadi orang yang lu suka itu gue?" tanya Sendy curiga.
"Eh nggak lah... hahaha" gue mulai grogi.
"Bener?" tanya Sendy sambil tersenyum.
"Eh iya.. anu.. ho'oh..." kata gue mulai salah tingkah.
"Itu muka lu merah lho... Suka ya sama gue?" kata Sendy kembali mendesak gue.
"Hahh... Apa boleh buat, iya aku suka Sen sama kamu..." kata gue grogi.
"Gue udah nebak sih... Tatapan lu ke gue itu beda." kata Sendy.
"Jadi gimana, kamu mau jadi pacarku gak???" tanya gue grogi.
"Bukannya aku udah pernah bilang ke kamu? Aku gak percaya sama yang namanya cinta." jelas Sendy.
"Ohh..." kata gue agak sedikit kecewa.
"Maaf ya..." kata Sendy.
"Gak apa kok... Tapi aku gak bakal nyerah, aku akan berusaha membuat kamu ngerti apa sebenarnya itu Cinta. Dan membuat kamu sadar, bahwa cinta itu gak selamanya bikin sakit hati." jelas gue sambil tersenyum.
Sendy hanya bisa terdiam. Mungkin ia tak menyangka, bahwa gue bakal nembak dia. Gue perhatikan wajahnya, ia seperti memikirkan sesuatu. Mungkin ia berusaha mencerna perkataan ku barusan.
Akhirnya, bel pulang sekolah berbunyi. Gue berencana ngajak pulang bareng Sendy.
"Sen, gue anterin pulang ya..." ajak gue.
"Boleh boleh.... Kebetulan nyokap gue gak bisa njemput, sedangkan gue males naik angkot..." kata Sendy.
"Pulang sekarang atau lu mau ke kantin dulu?" tanya gue.
"Sekarang ajah ihh...." kata Sendy.
"Ya udahh... yukk..." ajak gue.
Sampai dirumah Sendy, gue dan Sendy disambut mamanya Sendy.
"Oh, jadi ini Sen yang namanya Risky?" tanya mama Sendy.
"Iya mam... Ris, kenalin, ini mama gue..." kata Sendy.
"Eh, sore tante...." sapa gue sambil mencium tangan mama Sendy.
"Sore Risky... Makasih udah mau nganterin Sendy, ini dirumah ada ada saudara jauh dari Makasar, gak enak kalau ditinggal sndirian..." jelas mama Sendy.
"Ahhh, gak apa kok tante... Sama temen sendiri juga...." kata gue malu.
"Kapan kapan kalau tante gak bisa jemput Sendy, kamu mau kan nganterin Sendy? goda mama Sendy.
"Boleh lahh tante... hahahaha...." kata gue
"Hahahaha...." tawa mama Sendy.
"Anu tante, saya boleh ngomong berdua gak sama Sendy?" minta gue.
"Ohh, boleh... silahkan..." ujar mama Sendy, lalu pergi kedalam.
"Mau ngomong apa?" tanya Sendy.
"Besok jalan yuk, kemana kek..." ajak gue
"boleh.... jam berapa?" tanya Sendy.
"Habis maghrib ajah...." kata gue.
"Oke..." kata Sendy.
"Eh Sen, cium dong?" goda gue.
"Hadehhh!! Udah pulang gih sana, kburu maghrib entar...." perintah Sendy.
"Iya... Bye cantikk...." goda gue.
"Idihhh..." ujar Sendy sewot.
Hari gue ngedate bareng Sendy pun tiba. Gue berdandan sekeren mungkin berharap Sendy suka sama gue. Gue berangkat kerumah Sendy menggunakan mobil Corolla Altis gue.
Sampai dirumah Sendy, gue pun minta ijin ke orang tua Sendy.
"Om, tante, ijin keluar sama Sendy ya..." kata gue malu-malu
"Iya... Jangan malam-malam ya...." ujar papa Sendy
"oh iya om... Mari om, tante..." pamit gue, sambil mencium tangan papa dan mama Sendy.
Gue dan Sendy sampai disebuah taman yang sangat indah. Gue duduk sama Sendy dibangku taman itu.
"Sen, kamu lihat gak bintang bintang yang bersinar malam ini? Gak ada ya... gak kelihatan sinarnya sinarnya..." kata ku.
"Iya ya..." kata Sendy.
"Kamu tau, kenapa bintang malam ini gak bersinar dengan terang?" tanya gue
"Nggak, emang kenapa?"
"Soalnya cahayanya pindah semua kekamu..." kata gue.
"Ris, gak tau kenapa, setiap sama kamu, aku selalu ngerasa bahagia... Kenapa ya?" tanya Sendy.
"Itulah yang dinamakan jatuh cinta...." jelas gue.
"Jadi ini yang namanya cinta..." kata Sendy malu malu.
"Jadi gimana, kamu mau jadi pacar aku?" tanya ku.
"Aku mau... Kamu udah membuat aku belajar, bahwa tidak semua cinta itu bikin sakit, tapi ada yang bikin kita bahagia..." kata Sendy. Kami lalu berpelukan. Malam terasa indah bagi kami.
Tiba-tiba saja Putri, anakku mengagetkanku. Ku usap air mata yang sendari tadi menetes, saat aku mengenang kisah indahku dengan Sendy. Ku tutup album foto Sendy.
"Papa kok nangis? Papa kangen ya sama mama?" tanya Putri yang saat ini duduk di kelas 3 sd.
"Iya sayang, papa rindu sekali sama mama kamu. Tapi, dengan melihat wajah kamu, rasa kangen papa hilang, karena kamu sangat mirip sama mama kamu..." kata gue sambil memeluk Putri.
Ya, Sendy meninggal akibat serangan jantung, saat Putri masih TK. Air mata ku pun menetes, namun aku tersenyum. Aku bahagia, karena sudah membuat Sendy mengerti apa itu Jatuh Cinta. Meskipun ia sudah tiada, tapi aku yakin, dia bahagia disana. Dan aku berjanji tidak akan melupakannya. Aku akan terus mencntainya, apapun yang terjadi.
*****************************************************************************************************



