Cari

Senin, 22 Juli 2013

Cerpen: Sinka Juliani

Cinta Fatamorgana (Inspirasi: @SinkaJ_JKT48)




Hari ini sungguh menyedihkan bagiku. Aku tidak diterima di Universitas yang aku inginkan. Sebenarnya, tak masalah bagi orangtua ku. Tapi, tetap saja aku merasa bersalah. Ku duduk di bangku tempat aku biasa nongkrong dengan temanku. Tiba-tiba saja, seorang perempuan datang dan duduk disebelahku.

"Kenapa mas? Kok kayaknya murung gitu?" tanya perempuan itu.
"Enggak, saya gagal masuk Universitas yang saya inginkan..." jawabku.
"Ohh... Oh iya kenalin, saya Sinka... Maaf kalo saya agak kepo..." kata Sinka.
"Hahaha... gak apa kok mbak... Itung-itung, curhat... oh iya, saya Doni" kataku.
"Jangan panggil saya mbak dong.... Saya masih SMA..." kata Sinka malu-malu.
"Ya udah, Sinka..." kataku.
"Udah mas, gak usah murung.... Gak masuk Universitas favorit bukan berarti masa depan mas hancur kan? Sukses atau enggaknya orang kan tergantung dari orangnya, bukan sekolahnya..." Nasihat Sinka. Aku kaget, Sinka yang masih SMA punya pemikiran yang jauh dewasa dari aku.
"Gila Sin.... Pemikiran kamu dewasa banget... Jadi malu aku...." kataku.
"Apaan sih Mas biasa ajah kali..." ujar Sinka malu-malu. Kami pun bercanda, saling bercerita, dan bertukar nomor hp.

Sinka cerita kalau dia punya kakak yang baik dan Cantik. Namanya Naomi. Kata Sinka, Naomi adalah kakak yang perhatian. Sinka juga mengatakan kalau dirinya tidak ingin mengecewakan dan membuat sedih kakaknya.

Malamnya aku SMS Sinka. Aku ingin main ke rumah Sinka. Sinka menyanggupi. Aku berharap bisa lebih dekat lagi dengan Sinka dan keluarganya. Tak sabar rasanya esok hari.

Besoknya, aku bersiap-siap. Tak lupa aku membawa bunga dan martabak untuk Sinka. Ku pacu Suzuki Satria F150 ku dengan kecepatan sedang. Jantungku berdegup kencang. Ya, aku jatuh cinta dengan Sinka. Di rumahnya itu juga aku ingin menyatakan cinta ke dia.

Selang berapa lama, aku sampai dirumah Sinka. Rumahnya cukup besar. Terdapat taman di halamannya. Kutekan bel yang ada di dekat pagar rumah Sinka. Seorang perempuan keluar dari balik pintu. Perempuan itu sangat cantik. Tapi itu bukan Sinka. Wajahnya saja yang mirip. Mungkin itu Naomi yang sering diceritakan oleh Sinka.

"Cari siapa ya?" tanya Naomi.
"Ini kak Naomi ya?" tanyaku balik.
"Iya betul..." jawab Naomi.
"Sinka nya ada? saya sudah janji ingin ketemu dia kemarin..." kataku. Namu, seketika wajah Naomi pucat. Ia tampak kaget dengan apa yang baru kuucapkan.
"Silahkan masuk dulu" kata Naomi mempersilahkanku masuk.
"iya... Terimakasih" kataku

Naomi masuk ke dapur. Kupandangi rumah Sinka. Aku sedang duduk sendirian. Sekilas aku melihat bayangan orang seperti sedang berjalan. Aku kaget. Tapi aku hiaraukan itu. Naomi datang dengan segelas sirup dan duduk di sebelahku. Ia menyerahkan album foto Sinka.

"Itu album foto Sinka. Kami dulu sangat senang bermain bersama. Kami sangat dekat dulu." cerita Naomi.
"Dulu? Maksudnya?" tanyaku bingung.
"Kejadiannya sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu kami pulang dari FX. Sinka ingin coba menyetir mobil. Entah mengapa aku menurutinya. Aku biarkan Sinka menyetir mobil. Di tengah perjalanan, mobil yang kami tumpangi kehilangan kendali. Aku tidak mengalami luka serius. Tapi Sinka...."
"Tapi Sinka kenapa?" potongku.
"Sinka tewas di tempat. Aku merasa bersalah. Sampai saat ini, aku tidak bisa melupakan kejadian itu." cerita Naomi.
"Kak Naomi bercanda? Baru kemarin saya ketemu Sinka... Kita ngobrol bareng..." kataku tak percaya.
"Ikut kakak sekarang..." ajak Naomi

Naomi mengajakku ke pemakaman umum. Aku berjalan dengan langkah lemas, tak percaya dengan apa yang diceritakan Naomi tadi. Namun, yang diceritakan Naomi ternyata benar. Ia menunjukan makam Sinka. Aku pun menangis. Begitupun Naomi. Kupegang batu nisan Sinka. Kutaruh bunga yang kubeli tadi.

"Sinka, walaupun kamu sudah tidak ada didunia ini, tapi aku akan selalu mengingat nasihatmu. Aku cinta sama kamu Sinka..." ucapku dalam hati sambil masih menangis.

Akupun berdiri. Samar-samar kulihat Sinka sedang tersenyum. Lalu menghilang. Aku dan Naomi pun pergi meninggalkan makam Sinka. Aku tak percaya, bahwa Sinka sudah tiada sejak 2 tahun lalu. Lalu, siapa yang berbicara denganku kemarin?











Rabu, 03 Juli 2013

Cerpen: Ratu Vienny Fitrilya (Viny)

Indahnya Cinta (Inspirasi: @Viny_JKT48) 


Kupandangi wajahnya. Sungguh cantik dirinya. Ya, sudah lama aku tergila-gila pada Viny, anak kelas XI IPA. Aku dan Viny sudah sangat akrab. Walau kami beda kelas, tapi kami sering sekali bicara saat jam istirahat. 

"Jovan..." panggil Viny, membuyarkan lamunanku.
"Apa?" tanyaku kaget. 
"Kamu nanti sibuk gak???" tanya Viny.
"Gak kok, kenapa?" tanyaku.
"Nanti malem anterin aku ke acara ulang tahun Fitry ya..." ajak Viny.
"Ohhh Fitry hari ini ulang tahun... oke oke..." kataku menyanggupi.

Malamnya, aku berangkat ke rumah Viny. Ku pacu Kawasaki Ninja ku menuju kerumah Viny. Namun, saat aku menjemput Viny, betapa kagetnya aku saat orangtua Viny tidak membolehkan Viny berangkat bersamaku. 

"Sana pulang kamu!!!" bentak papa Viny.
"Tapi om..." kataku.
"Kamu gak dengar apa yang om bilang???!!!" bentak papa Viny lagi.
"Papa kenapa sihhh paaaa....???" ujar Viny sambil menangis.
"Biar papa yang antar kamu!!!! Papa gak suka ngelihat teman kamu ini!!!!" jelas papa Viny.

Akupun memacu kendaraan dengat sangat kencang. Aku bingung, kenapa Papa Viny tidak suka dengan aku. Apa ada yang salah dari tingkahku? Aku pun pulang kerumah dengan perasaan campur aduk. 

Besoknya aku bertanya kepada Viny. Namun, Viny malah memintaku menjauh darinya.

"Vin..." panggilku.
"Kamu jangan deket-deket aku lagi. Kita putus..." ujar Viny mengagetkanku.
"Tapi Vin, aku salah apa sama kamu??? Kalau aku ada salah, maafin aku Vin. Aku mau hubungan kita ini terus berjalan." kataku ke Viny
"Aku gak bisa Van!!! Orangtua aku gak suka aku deket sama kamu!!!!" jelas Viny membuatku kaget.
"Biar aku kerumahmu nanti malam!!" ujarku.
"Tapi Van...." kata Viny
"Biar aku yang bicara ke orangtua kamu..." kataku meberanikan diri.

Malamnya, aku sengaja jalan kaki ke rumah Viny. Walaupun saat itu cuaca sedang gerimis. Aku berbicara kepada orangtua Viny. Mereka tidak suka dengan aku karena menganggap aku cowok tidak benar. Papa Viny mengusirku. Kulihat Viny menangis. Aku pun pulang dengan hati yang hancur lebur. Karena cinta!!

Tapi itu dulu. Ku peluk Viny dan ku kecup keningnya. Ya, aku telah resmi menjadi suami dari Viny. Entah apa yang membuat Orangtua Viny berubah pikiran, yang jelas aku sekarang bahagia. Karena merasakan indahnya cinta...


Cinta memang terkadang bisa membuat kita sakit hati. Namun percayalah, jika kamu mau berusaha dan berdoa demi mengejar cintamu, kamu akan merasakan betapa indahnya cinta.






Selasa, 02 Juli 2013

Cerpen: Jessica Vania (Jeje)

Cinta Lama Bertemu Kembali (Inspirasi: @jcvanJKT48)


Kenalin, namaku Ferdhi. Aku siswa kelas 1 di salah satu SMA di Jakarta. Aku punya pacar cantik banget. Jessica Vania namanya. Namun aku lebih suka memanggilnya Jeje. Sudah 3 bulan kita pacaran. Sampai suatu ketika, Jeje ngasih tau kalau dia mau ikut audisi JKT48. 

"Kamu tau gak sih golden rules 48Family?" kataku ke Jeje.
"Iya aku tau, member gak boleh pacaran kan? Tapi ini demi masa depan aku..." kata Jeje.
"Tapi Je..." belum sempat aku ngomong, Jeje memotong.
"Kalo kamu cinta sama aku, kamu harusnya ngedukung aku!!!!" ujar Jeje.

Aku terdiam. Ku peluk langsung Jeje. 

"Baiklah, kalau itu mau kamu..." bisik ku ke Jeje.
"Aku harap kamu ngerti ya... Lagian, belum tentu juga aku diterima. Doain aku ya..." ujar Jeje.
"Aku doain yang terbaik buat kamu sayang..." ujarku ke Jeje. 

Ku kecup kening Jeje. Tak sanggup rasanya aku hidup tanpa sosok Jeje di sampingku. Tak lama setelah itu, bel masuk mengagetkan ku. Aku dan Jeje segera masuk ke dalam kelas.

Besoknya, ku antar Jeje ke tempat audisi member JKT48. Jeje memang memiliki bakat dibidang musik. Suaranya sangat merdu. Ia bahkan bisa memainkan alat musik seperti Gitar dan keyboard. Itu yang membuat aku suka dengan Jeje. Ia tidak pernah lelah mengejar cita-citanya. Dan aku akan terus mendoakan yang terbaik buat Jeje. Tanpa terasa, air mataku pun menetes.

"Aku tunggu atau gimana?" tanyaku ke Jeje.
"Gak usah deh, ini pasti sampai sore, kamu tinggal ajah nanti aku kabarin" kata Jeje.
"Oke... Good Luck ya sayang..." ujarku menyemangati Jeje. 
"Thanks ya..." kata Jeje.

Besok nya, aku mendapatkan kabar dari Jeje bahwa ia diterima di JKT48. Entah aku harus senang atau Sedih. Jeje tidak masuk sekolah hari ini dan itu membuat aku sedih. Aku seperti tidak punya semangat untuk hidup lagi. 


Setahun lebih setelah Resmi menjadi member JKT48, aku tidak pernah berkomunikasi dengan Jeje lagi. Ku coba sms, tak ada balasan. Ku coba telpin, tak ada jawaban. Yah, mungkin dia sedang berusaha melupakanku. Atau mungkin ia sudah melupakanku. Aku juga sudah pindah dari Jakarta. Aku pindah ke Surabaya. Perkerjaan ayah adalah sebab mengapa aku pindah ke kota terbesar kedua di Indonesia ini.

Seminggu di Surabaya, aku masih tidak bisa berkomunikasi dengan Jeje. Aku hanya bisa menyaksikannya melalui layar televisi dan Youtube saja. Rindu rasanya mendengar suara Jeje. Sampa suatu hari, aku dapat kabar bahwa JKT48 mengadakan konser akbar di Surabaya. Aku pun langsung memesan tiket VIP, dan kebetulan aku dapat tempat duduk paling depan.

Waktu yang dinanti pun tiba. Aku bergegas naik ke Mobil Ford milik ayahku. Tak lupa, aku membawa topeng Gorila, yang biasa kupakai saat masih pacaran dengan Jeje dulu. Mungkin ia akan ingat. Atau mungkin sebaliknya. Tapi tak ada salahnya untuk dicoba.

Konser pun dimulai. JKT48 membukanya dengan lagu Heavy Rotation. Saat pertengahan konser, Jeje memintaku maju ke panggung.

"Surabaya unik yaaa!!!!" teriak Sendy. Penonton punbergemuruh.
"Itu coba yang pakai topeng gorila sini maju" kata Jeje sambil menunjuk ke arahku.

Akupun maju ke atas panggung. Gugup rasanya, tapi senang, karena aku bisa bertemu lagi dengan Jeje.

"Namanya siapa" tanya Jeje.
"Masih ingat aku?" tanyaku sambil membuka topeng. Jeje terlihat sangat kaget. 
"Fe... Ferdhi!!?" kata Jeje kaget.
"Iya Je, ini aku Ferdhi" kataku.
"Ka... kamu kok bisa disini???" tanya Jeje masih gak percaya.
"Nanti aku ceritain waktu acara m&g..." ujarku lalu turun dari panggung. Kulihat Jeje masih terlihat kaget sekali.

Acara m&g pun tiba. Aku duduk satu meja sama Jeje. Jeje terlihat gugub banget melihat wajahku.

"Hahh... Akhirnya kita bisa bertemu lagi..." ujarku
"Tapi, kok kamu bisa di Surabaya?" tanya Jeje. 
"Aku pindah karena ayahku ditugaskan di Surabaya." jelasku ke Jeje.
"Aku kangen sama kamu Dhi..." kata Jeje.
"Aku juga... Aku telpon hp kamu, tapi gak kamu angkat..." kataku.
"Sorry, aku sibuk bangett....." kata Jeje.
"Iya aku ngerti kok... Kamu baik-baik ya selama di JKT48... Jangan ngetroll member yang lain...." candaku. Kami tertawa terbahak-bahak. 

Tak terasa acara M&G telah usai. Aku pun pamit kepada member yang lain, termasuk Jeje. 

"Aku pulang ya Je..." kataku.
"Kamu jangan ngelupain aku ya..." kata Jeje
"Aku gak mungkin ngelupain orang yang aku cinta Je. Walaupun kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi aku tetep mengaggap kamu sebagai sahabat aku. Sahabat yang sangat aku cintai. Tetap jadi diri kamu sendiri Je. I Love You" ujarku lalu meninggalkan Jeje. Kulihat Jeje tersenyum sambil menangis. Ia melambaikan tangan ke aku. Aku hanya bisa menahan tangis seraya pergi meninggalkan tempat M&G.