Cinta Tidak Harus Memiliki (Inspirasi: @Nadila_JKT48)
“Kring.... Kring...”
Bel sekolah berbunyi. Akupun bergegas
masuk ke dalam kelas. Kelas sangat gaduh, sebelum akhirnya Pak Jovi, guru TIK
sekaligus wali kelas ku masuk sambil menggandeng seorang murid baru. Murid itu
cantik. Sangat cantik, hingga aku terpana melihatnya. Tubuhnya yang mungil,
senyumannya yang manis, membuatku ingin lebih dekat dengannya. “Semoga Pak Jovi
menyuruh murid itu duduk disebelahku...” ucapku dalam hati.
“Selamat pagi anak-anak...” sapa pak
Jovi.
“Pagiiii pakkk....” ujar kami
serempak.
“Sebelum bapak memulai pelajaran hari
ini, bapak ingin memperkenalkan teman baru kalian. Silahkan...” ujar Pak Jovi.
“Slamat pagi... Nama saya Nadila,
saya pindahan dari SMA Harapan Bangsa Solo, salam kenal...” ujar Nadila
memperkenalkan diri.
“Terima kasih Nadila, silahkan duduk
di bangku nomor 3 di sebelah Bayu.” perintah pak Jovi
Nadila lalu menuju ke bangku ku. Ku
terus pandangi wajahnya yang manis itu. Manis sekali.
“Hai...” ujar Nadila membuyarkan
lamunanku
“Eh, hai..” jawab ku gugup.
“Kenalin, aku Nadila...” ujar Nadila
kepadaku.
“aku Bayu...” ujarku.
“salam kenal ya....” ujar Nadila
sambil tersenyum.
Singkat cerita, aku dan Nadila
semakin akrab. Dan aku juga makin mencintai Nadila. Akupun merencanakan kencan
pertamaku dengan Nadila. Aku mengajak Nadila bertemu di Taman. Aku juga sudah
menyiapkan surat cinta yang akan kubacakan nanti di depan Nadila. Tiba-tiba
saja ada sms masuk, dan itu dari Nadila.

From: Nadila (+62818766xxxxx)
Bay, aku udah mau sampai di taman nih...
Aku lalu bergegas memacu motorku
dengan sangat kencang. Aku tidak sabar ingin mengungkapkan rasa cintaku kepada Nadila. Dan tiba-tiba....
“Brakk...!”
Motor ku menabrak trotoar dengan
sangat keras. Aku terpelanting ke aspal dengan keras. Aku tidak sadarkan diri,
tetapi aku masih bisa mendengar suara orang-orang yang berusaha menolongku. Aku
juga mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinga ku.
“Bay, kamu kenapa...?! Kok bisa kayak
gini sihh Bay...” teriak Nadila sambil menangis.
“Nad....” panggilku sambil
menyerahkan surat yang sudah kupersiapkan tadi. Shania lalu membukanya dan
membaca suratku sambil terus meneteskan air mata.

Hai Nadila....
Sudah 2 tahun kita berteman. Suka dan duka kita lalui bersama. Dan aku
pikir, inilah waktu yang tepat untuk menyatakan cinta padamu. Mungkin, aku
tidak bisa memberikan mu apa-apa. Namun cintaku ini tulus hanya kepadamu.
Dari yang mencintaimu
Bayu
Tangis Nadila pun semakin keras.
Sekilas, aku melihat cahaya berada di atas kepala ku. Mungkin, inilah saatnya
aku mengucapkan Selamat Tinggal kepada Nadila.
“Nad...” panggilku.
“I, iya Bay...” ujar Nadila.
“Selamat tinggal Nad, I Love
You...”ujarku ke Nadila, lalu ku tutup mataku.
“Selamat jalan Bay, semoga kamu tenang
disana. I Love You...” ujar Nadila sambil meneteskan air mata.
Akupun tersenyum, sambil meneteskan
air mata. “Ya, cinta memang tidak selalu berakhir bahagia. Dan cinta, juga
tidak harus saling memiliki.” Ujarku dalam hati.
Aku lalu berjalan mengikuti cahaya
yang ku lihat tadi, dan pergi meninggalkan Nadila untuk selamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan... Ini cuma cerpen... Saya hanya ingin penilaian dari anda...