Cari

Kamis, 03 Oktober 2013

Cerpen: Nadila Cindi Wantari

Cinta Tidak Harus Memiliki (Inspirasi: @Nadila_JKT48)








“Kring.... Kring...”
Bel sekolah berbunyi. Akupun bergegas masuk ke dalam kelas. Kelas sangat gaduh, sebelum akhirnya Pak Jovi, guru TIK sekaligus wali kelas ku masuk sambil menggandeng seorang murid baru. Murid itu cantik. Sangat cantik, hingga aku terpana melihatnya. Tubuhnya yang mungil, senyumannya yang manis, membuatku ingin lebih dekat dengannya. “Semoga Pak Jovi menyuruh murid itu duduk disebelahku...” ucapku dalam hati.

“Selamat pagi anak-anak...” sapa pak Jovi.
“Pagiiii pakkk....” ujar kami serempak.
“Sebelum bapak memulai pelajaran hari ini, bapak ingin memperkenalkan teman baru kalian. Silahkan...” ujar Pak Jovi.
“Slamat pagi... Nama saya Nadila, saya pindahan dari SMA Harapan Bangsa Solo, salam kenal...” ujar Nadila memperkenalkan diri.
“Terima kasih Nadila, silahkan duduk di bangku nomor 3 di sebelah Bayu.” perintah pak Jovi

Nadila lalu menuju ke bangku ku. Ku terus pandangi wajahnya yang manis itu. Manis sekali.
“Hai...” ujar Nadila membuyarkan lamunanku
“Eh, hai..” jawab ku gugup.
“Kenalin, aku Nadila...” ujar Nadila kepadaku.
“aku Bayu...” ujarku.
“salam kenal ya....” ujar Nadila sambil tersenyum.

Singkat cerita, aku dan Nadila semakin akrab. Dan aku juga makin mencintai Nadila. Akupun merencanakan kencan pertamaku dengan Nadila. Aku mengajak Nadila bertemu di Taman. Aku juga sudah menyiapkan surat cinta yang akan kubacakan nanti di depan Nadila. Tiba-tiba saja ada sms masuk, dan itu dari Nadila.

From: Nadila (+62818766xxxxx)
           
Bay, aku udah mau sampai di taman nih...



Aku lalu bergegas memacu motorku dengan sangat kencang. Aku tidak sabar ingin mengungkapkan rasa cintaku kepada Nadila. Dan tiba-tiba....

“Brakk...!”
Motor ku menabrak trotoar dengan sangat keras. Aku terpelanting ke aspal dengan keras. Aku tidak sadarkan diri, tetapi aku masih bisa mendengar suara orang-orang yang berusaha menolongku. Aku juga mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinga ku.
“Bay, kamu kenapa...?! Kok bisa kayak gini sihh Bay...” teriak Nadila sambil menangis.
“Nad....” panggilku sambil menyerahkan surat yang sudah kupersiapkan tadi. Shania lalu membukanya dan membaca suratku sambil terus meneteskan air mata.

Hai Nadila....
Sudah 2 tahun kita berteman. Suka dan duka kita lalui bersama. Dan aku pikir, inilah waktu yang tepat untuk menyatakan cinta padamu. Mungkin, aku tidak bisa memberikan mu apa-apa. Namun cintaku ini tulus hanya kepadamu.
Dari yang mencintaimu
Bayu


Tangis Nadila pun semakin keras. Sekilas, aku melihat cahaya berada di atas kepala ku. Mungkin, inilah saatnya aku mengucapkan Selamat Tinggal kepada Nadila.

“Nad...” panggilku.
“I, iya Bay...” ujar Nadila.
“Selamat tinggal Nad, I Love You...”ujarku ke Nadila, lalu ku tutup mataku.
“Selamat jalan Bay, semoga kamu tenang disana. I Love You...” ujar Nadila sambil meneteskan air mata.

Akupun tersenyum, sambil meneteskan air mata. “Ya, cinta memang tidak selalu berakhir bahagia. Dan cinta, juga tidak harus saling memiliki.” Ujarku dalam hati.
Aku lalu berjalan mengikuti cahaya yang ku lihat tadi, dan pergi meninggalkan Nadila untuk selamanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan sopan... Ini cuma cerpen... Saya hanya ingin penilaian dari anda...