Cari

Jumat, 21 Juni 2013

Cerpen: Stella Cornelia

Cinta yang Tak Terduga (Inspirasi: @stellaJKT48)






Hari ini aku senang sekali. JKT48 mengadakan event Hand Shake (HS) Nasional. Dan tempat pertama diluar Jakarta adalah, SURABAYA. Aku sudah mempunya 1 tiket HS bersama Stella. Oshiku memang Stella. Menurutku, Stella itu multitalent, dan cantik
Namaku Ryan. Aku adalah mahasiswa di salah satu universitas di Surabaya. Aku mengambil jurusan sastra Indonesia. Umurku masih 22 tahun. Aku fans JKT48,  dan oshiku adalah Stella. Sudah banyak PP Stella yang aku punya. Impianku untuk bisa handshake dengan Stella akan segera terkabul besok. Aku menyiapkan barang yang akan kubawa besok. Lighstick, PP Stella, dan CD band ku mengcover lagu-lagu JKT48.

Esoknya, pagi-pagi sekali aku sudah siap berangkat ke tempat handshake. Tak lupa, aku bawa juga PP Stella ku. Tak sabar rasanya bertemu dengan Stella dan bersalaman dengannya. Aku ambil kunci sepeda motor Ninja ku. Aku langsung ke markas band ku. Teman-teman ku ternyata sudah siap disana.

"Kemana ajah sih lu, lemot amat...." ujar Rhozil, gitaris band ku.
"Sorry bro, biasa kalau mau ketemu pacar mah harus dandan cakep dulu..." ujarku bercanda.
"Pacar pacar ndasmu...." ujar Rhozil sewot.
"Udah berangkat yuk, keburu siang entar..." ajak Yazid, drummer di band ku.

Kami sampai di tempat HS Nasional diselenggarakan. Ternyata, para fans sudah memenuhi tempat HS. Padahal, event HS dimulai 2 jam lagi. Di tempat HS tersebut, aku ketemu mantan pacarku, Shinta..

"Ryan.....!!!!" teriak Shinta
"Ehhh kamu Shin, ngapain disini???" tanyaku.
"Yah ikut HS lahh... aku kan fangirl JKT48..." kata Shinta.
"Wihhh gila... Mau HS sama siapa?"  tanya ku.
"Sama Jeje... Kalau kamu?" tanya Shinta.
"Stella dong...." jawab ku sambil tersenyum.

Selang beberapa menit kemudian, JOT meminta kami untuk berbaris sesuai dengan member yang ingin disalami. Apesnya, aku dapet barisan di belakang sendiri. Tapi tak apalah, demi oshi, pikirku. Aku masih betah berbaris. Cuaca di Surabaya sangat panas, benar-benar cobaan yang berat.

Setelah berbaris cukup lama, tiba giliranku bersalaman dengan Stella. Ada untungnya juga baris paling belakang. Aku bisa bersalaman dan bercengkrama lebih lama dengan Stella.

"Halo... Selamat siang.....!!!!" ujar Stella sambil menyalami tanganku. Aku hanya bisa bengong dan grogi.
"ehh, anu, siang....." jawab ku grogi.
"Kok gitu jawabnya, grogi ya...?" goda Stella.
"Enggak, anu, Ci Stella cantik...." ujar ku grogi abis.
"Kamu juga ganteng....." jawab Stella malu-malu.
"Ahhh bisa ajah nihh cici..." ujarku malu.
"Mau ditanda tanganin gak itu Photopack nya?" tanya Stella.
"ehhh, bolehhh...?" tanya ku gak percaya.
"Boleh kok... Sini..." ujar Stella
"Makasih ci...." ujarku malu.
"sama-sama... Nih sama nomor hp aku ya..... Tunggu telpon dari aku..." ujar Stella membuatku kaget.
"Ini beneran ci???" tanya ku kaget.
"Jangan panggil cici dong, panggil Stella ajah..." ujar Stella.
"Iya, Stell, ini beneran?" tanyaku masih gak percaya.
"Iya... nanti sms'in nomor kamu ya...." ujar Stella
"oke..." jawabku

Malamnya, aku coba sms Stella.

"Ini Stella???" sms ku ke Stella
"Ini Siapa?" balas Stella
"Ini aku yang tdi kmu kasih nomor telpon di tempat HS" balas ku
"Ohhh kamuuu!!! Nama kamu siapa? lupa nanya tadi..." tanya Stella
"aku Ryan... :))"  balasku.

Kita pun sma-an semalaman. Dia ngajak aku ketemuan di Tugu Pahlawan besok. Aku pun senang. Gak nyangka bisa jalan sama Stella.

Besoknya, aku bangun jam 11 siang. Aku siap jemput Stella di salah satu Hotel di Surabaya. Aku pinjam mobil Xenia ayahku. Saat sampai, ternyata bukan hanya Stella yang ikut, tapi Melody, Frieska, dan Sonia pun ikut. Hilang harapanku buat jalan berdua sama Stella.

"Eh, Stell, lama ya nunggunya?" tanyaku, takut Stella marah aku kelamaan jemputnya.
"Enggak kok, ini kami baru nyampai di depan..." jawab Stella.
"Ya udah ayo, masuk...." ajakku.
"eh ci, cici cocok lho sama bang Ryan. Kenapa gak Nikah ajah?" tanya Sonia sambil ketawa.
"Kamu gila dekk?" tanya Stella agak sedikit sewot.
"Ya kan kali ajahh...." jawab Sonia.
"eh iya bang, di Tugu Pahlawan ada apa ajah siihh?" Tanya Frieska.
"Yah banyak, liat ajah dehh entar.... Ada rekaman suaranya Bung Tomo juga..." jawabku.

Sampailah kami di Tugu Pahlawan. Stella, Sonia, Melody dan Frieska serius melihat koleksi di musium Tugu Pahlawan. Aku masih mencari-cari kesempatan untuk bisa ngobrol sama Stella berdua. Namun mereka berempat selalu bersama. Pupus sudah harapanku. Sampai suatu ketika, Melody, Frieska dan Sonia minta ke Toilet.

"Eh, Toiletnya dimana ya?" tanya Melody.
"Tuhh..." jawabku sambil menunjuk ke arah Toilet.
"Sonia, Frieska, Stella, gak ikut? Biar sekalian..." kataku.
"Iya dehh...." Jawab Sonia.
"Iya ya, biar gak bolak balik..." kata Frieska.
"Cici enggak?" tanya Sonia ke Stella.
"gak deh... gak kebelet..." jawab Stella

Setelah mereka bertiga ke toilet, aku pun mulai mendekati Stella.

"Stell..." panggilku.
"iya...?" tanya Stella.
"Ada yang pingin aku omongin nihh ke kamu...." kataku.
"ohhh, mau ngomong apa?" tanya Stella bingung.
"Aku sebenernya, cinta sama kamu..." jawabku agak malu malu.
"Kamu gak tau ya? Aku juga cinta lagi sama kamu... Entah kenapa, aku ngerasa nyaman disamping kamu..." ujar Stella malu-malu.
"Kalo gitu, kamu mau jadi kekasih ku? Yang selalu setia menemaniku, dalam keadaan senang maupun susah?" tanyaku.
"Aku mau..." jawab Stella.

Aku seneng banget. Ku peluk Stella. Saat akan ku cium bibirnya, seseorang mengagetkanku.
"Woyy!!! Iki tempat umum bos, ojok mesum nang kene!!!! (ini tempat umum, jangan mesum disini)" kata orang itu.
"Eh, iyo mas... sepurane... (eh iya mas, maaf...)" kataku ke orang itu. Orang itu pun pergi.

Aku dan Stella tersenyum. Selang beberapa saat kemudian, Melody, Frieska, dan Sonia kembali. Aku melepaskan tangan Stella. Aku sangat senang sekali.

"Kok kalian senyum gitu? Jadian ya...?" tanya Melody sambil ketawa.
"Ihhh enggak kok..." jawab Stella malu.
"Ngaku ajah kali, kita lihat kok tadi... hehehehe..." kata Melody.
"Hahhh? Lu liat tadi gue nembak Stella?" tanya ku gak percaya.
"Enggak sih, cuma lu kena jebakannya mbak Melody..." jelas Frieska sambil ketawa.
"Kamprettt..." teriakku malu.
"Ecieee... mukanya langsung merahh...Gak usah malu lagi..." kata Sonia menggoda.
"Udah ahh, balik yukk..." ajak Stella.
"Ayuk ahh..." ujarku sambil tersenyum. Kugandeng tangan Stella dengan erat. Sangat erat. Aku akan slalu mencintaimu, Stella.



Cerita diatas memang sangat sangat mengkhayal, tapi anda bisa mengambil hikmahnya. Bahwa yang namanya CINTA itu bisa datang kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja.



***********************************************************************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan sopan... Ini cuma cerpen... Saya hanya ingin penilaian dari anda...