Cari

Minggu, 09 Juni 2013

Cerpen: Shania Junianatha



Semua Akan Indah Pada Waktunya (Inspirasi: @shaniaJKT48)





Hari ini, hari yang sangat membahagiakan buat ku dan buat Shania. Ya, kami akan segera melaksanakan resepsi pernikahan. Shania terlihat cantik, dengan gaun pengantin berwarna putih. Mungkin kalian mengira, bahwa hubunganku dengan Shania tidak ada rintangan dan lancar-lancar saja. Tapi kalian semua salah.


Nama aku Naufal. Saat ini, aku duduk di kelas 2 SMA. Aku adalah anggota OSIS di SMA ku. Aku mempunyai 4 sahabat, Risky, Aji, Aldi dan Fajar. Kami sering dipanggil 5 sekawan, karena kemana-mana selalu berlima. Dari anggota 5 sekawan ini, hanya aku dan Fajar yang masih Jomblo. Sisanya sudah memilik pacar. Risky berpacaran dengan Melody, anak kelas 3 IPS, Aji dengan Sonia, anak kelas 2 IPA, dan Aldi berpacaran dengan Frieska, anak kelas 3 IPS. Setiap lihat mereka bertiga pacaran, aku dan Fajar selalu merasa iri. Aku dan Fajar pun mulai giat mencari cewek untuk kami jadikan pacar.

"Jar, enak ya tuh mereka, punya pacar... Ada ang ngehibur kalau lagi sedih.... Sampai kapan kita mau jomblo kayak gini terus....?" tanyaku ke Fajar.
"Iya nih Fal, enak gitu ya punya pacar....." jawab Fajar.
"Eh iya Jar, lu tau gak, si Shania? Anak kelas 1 itu lho...." tanyaku ke Fajar.
"Tau... Yang katanya manis itu kan? Lu naksir ya sama dia?" tanya Fajar sambil senyam-senyum gak jelas.
"Iya nih.... Tapi, gue malu nih ngomong sama dia.... Lu ada tips gak?" tanyaku ke Fajar.
"Lu ngapain tanya ke gua? tanya ajah sama yang udah pacaran...." jawab Fajar.
"Oh iya ya..... Tumben banget lu pinter....." kataku ngeledek.

Saat jam istirahat kedua, aku menghampiri Aldi. Ia memang dikenal pintar mereyu perempuan. Tak heran jika Frieska yang cantik itu bisa terpikat demgan Aldi yang sebenarnya gak ganteng-ganteng banget.

"Al, gue mau tanya nih sama lu..." kataku ke Aldi.
"Tanya apaan?" kata Aldi.
"Jadi gini Al... Gue suka sama cewek anak kelas satu, gue mau kenalan, masalahnya gue malu Al... Lu ada cara gak biar gue sukses pdkt sama dia....?" tanyaku ke Aldi.
"Kasih tau dulu, siapa cewek yang lu taksir itu, baru deh gue bantu...." kata Aldi.
"Iya dehhh.... Namanya Shania, anak kelas satu...." jawabku pasrah.
"Ohh... Gampang sih, lu kan Humoris tuh Fal, ya lu gunain deh kelebihan lu itu buat pdkt..." kata Aldi.
"Emang bisa Al?" tanyaku gak percaya.
"Gini Al, cewek itu gak cuma suka dirayu, cewek juga suka cowo yang humoris, karena bisa buat si cewek terhibur..... Yah lu pura-pura nyapa kek, terus lu ceritain deh yang lucu-lucu ke dia... Gue yakin, dia bakal suka sama lu...." jawab Aldi dengan mantap.
"Gilaaaaa..... Briliant banget ide lu Al... Emang dah, lu sang penakluk wanita..." kataku memuji Aldi.
"Lagi ngomongin apaan sih?" tanya Frieska, yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
"Ini, si Naufal suka sama anak kelas satu, Shania namanya....." jawab Aldi.
"Tapi kalau kak Frieska mau sama aku, aku rela kok..." kataku merayu Frieska.
"Gue yang gak rela....!!!" kata aldi manyun.
"Bercanda Al... hahahahahaha..." tawa gue ngeledek Aldi.
"Eh, gue punya nomor telpon dan pin BB Shania... Mau gak?" tanya Frieska.
"Mau banget kak....." jawab gue mantap.

Setelah dapat Saran dari Aldi plus Pin BB dan nomor hp Shania dari Frieska, aku menuju ke kelas satu B. Aku tanya ke anak-anak.
"Dek, Shania mana?" tanya gue ke adik kelas.
"Tuhhh....." kata adek kelasku sambil nunjuk Shania.
"Panggilin ya..." mintaku ke adik kelas ku itu.
"Shannn... Shan...." panggil adik kelasku.
"Apa?" tanya Shania
"Panggil kak Naufal...." 
"Apaan kak?" tanya Shania. Wajah nya cantik sekali saat itu.
"Anu, Shan.... Kamu nanti pulang, naik apa?" tanya ku ke Shania
"Dijemput mama aku..." jawab Shania.
"Bilangin, gak usah jemput, biar aku yang nganter kamu pulang..." ajak ku agak malu-malu.
"Beneran kak....?" tanya dia kaget.
"Iya udahhh... Biar kita bisa temenan gitu....." jawabku.
"Ya udah dehh...." jawab Shania.

Setelah itu, aku langsung cerita ke sahabat-sahabatku kalau aku pulang bareng Shania nanti. Fajar juaga bercerita bahwa ia sekarang pacaran sama Vanka, anak IPS.

Bel sekolah pun berbunyi... Aku langsung menuju ke ruang kelas Shania.
"Jadi kak...?" tanya Shania.
"Ya jadilahh.... yuk...." ajakku.

Sampai kami di rumah Shania. Rumanya cukup besar. Terdapat 3 mobil mewah di rumahnya. Sekilas aku melihat mama Shania, menunggu kedatangan anaknya. Aku melihat Shania langsung disuruh masuk oleh mamanya. Perasaanku jadi gak enak.

Esoknya di sekolah, Shania cerita ke aku sambil menangis. 
"Kak...." panggil Shania sambil menangis.
"Lho??? Kamu kok nangis? kenapa?" tanyaku yang heran melihat Shania menangis.
"Mama aku gak suka sama kakak... Katanya aku gak boleh deket-deket kakak lagi.... Padahal, aku suka kak sama kakak...." kata Shania.
"Kamu suka sama aku??" tanyaku gak percaya.
"Iya kak, aku suka sama kakak....."
"Anu, sebenernya, kakak juga suka dik sama kamu...." jawab ku malu.
"Aku pingin pacaran sama kakak, tapi mama aku..." Shania kembali menangis.
"Udah, udah.... Gini ajah, gimana kalau kita backstreet ajah?" kataku ke Shania.
"Backstreet? Pacaran diam-diam gitu?" tanya Shania.
"Iya... Kamu mau gak jadi pacar aku...?" tanyaku.
"Mau kak... Jadi kita backstreet ya?" kata Shania.
"Iya, kita coba jalanin ajah hubungan kita...." kataku.


3 tahun sudah, kami berpacaran secara diam-diam. Kampus Shania sama dengan kampus ku. Aku senang, karena bisa bertemu Shania lagi. Sampai Shania berkata kepadaku,
"Kak, sampai kapan kita mau kayak gini terus...?" tanya Shania.
"Iya ya... Gini ajah, kakak akan datang ke rumah kamu buat silatuhrammi sama keluarga kamu" ajak ku.
"Kakak yakin? Kalau mama aku gak nerima kakak gimana?" tanya Shania.
"Tenang Shan.... Aku yakin, semua bakal indah pada waktunya" jawabku.

Malamnya, aku bersiap datang ke rumah Shania. Dan yang diduga Shania benar. Aku ditolak oleh keluarga Shania. Shania menangis. Aku diusir dari rumah Shania. Aku pulang dengan perasan campur aduk. 

Esoknya di kampus, aku kaget mendengar kabar dari temanku, bahwa Shania pindah ke Singapur. Aku kaget. Aku terpukul mendengar berita itu. Sepanjang pelajaran, aku benar-benar tidak bisa konsentrasi.

Sejak malam itu, hubunganku dengan Shania semakin renggang. Aku tidak tahu statusku dengan Shania apa sekarang. Pacaran, atau putus? Dan aku juga tidak pernah dapat kabar lagi tentang Shania. Sampai suatu hari, aku mendapat telpon dari Shania. Aku angkat telpon itu, dan begitu kagetnya aku ketika yang berbicara kepadaku adalah ayah dari Shania.

"Halo..." kataku.
"Halo, apa benar ini nak Naufal? Ini saya Ayahnya Shania..." jawab ayah Shania.
"Ehh... Iya om, benar ini saya , Naufal... Ada apa ya om?" tanyaku gugup.
"Begini nak Naufal, bisa kamu ke RSCM sekarang, ada yang om ingin sampaikan ke kamu...." ajak ayah Shania.
"Oh... baik om, saya akan berangkaat sekarang..." kataku menyanggupi ajakan ayah Shania.

Aku berangkat dengan motor Vario ku. Angin saat itu sangat kencang. Perasaanku campur aduk, antara senang, atau takut. Senang karena bisa bertemu Shania lagi, atau takut Shania kenapa-kenapa karena mereka sekarang berada di RSCM. Akhirnya, aku sampai di RSCM dan bertemu keluarga Shania, namun aku tidak melihat Shania.

"Om, Shania nya mana ya?" tanya ku.
"Itulah mengapa om memanggilmu ke sini nak... Shania mengalami gagal ginjal... Ia butuh pendonor ginjal... Apa kamu mau mendonorkan separuh ginjalmu untuk Shania... Om dan sekeluarga janji, akan merestui hubungan kalian..." kata Ayah Shania. Aku kaget setengah mati dengan apa yang barusan ku dengar.
"Saya siap mendonorkan ginjal saya om, jika itu demi keselamatan Shania...." kata ku menyanggupi permintaan Ayah Shania.
"Terima kasih nak Naufal... Terima kasih..... Ayo ikut om..." kata Ayah Shania sambil memelukku.


Suara MC membuyarkan lamunanku. Kulihat Shania yang sekarang ada didepan mataku. Orang tuaku dan Orang tua Shania tersenyum. Aku memakaikan cincin ke jari manis Shania. Ku kecup keningnya, dan kubisikan kepadanya,
"Lihatlah Shania, semua pasti akan indah pada waktunya... I Love You..." bisikku ke Shania.
Shania hanya tersenyum melihatku, dan kami berpelukan. "Aku janji Shan, aku akan rela melakukan apapun demi kamu, aku akan selalu, mencintaimu..." kataku dalam hati. Suasana menjadi sangat bahagia dan mengharukan. Dan kebahagian, tiba pada saat yang tak diduga.


Jika kamu mencintai seseorang, atau menginginkan sesuatu, tapi gagal mendapatkannya, jangan menyerah. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Cobalah untuk mendapatkannya walau banyak rintangan menghadang. Percayalah bahwa "semua akan indah pada waktunya...."



******************************************************************************

4 komentar:

Berkomentarlah dengan sopan... Ini cuma cerpen... Saya hanya ingin penilaian dari anda...